Tempat Wisata Pulau Jawa
top

Wisata di Kota Tua Jakarta

kota-tua-jakarta

Wisata di Jakarta tentu tidak lengkap jika tidak mengunjungi Kota Tua atau yang biasa disebut Batavia Lama (Oud Batavia—bahasa Belanda), yang memiliki wilayah seluas 1,3 km. Terletak di wilayah bagian utara Jakarta, kota ini mulai dibangun sekitar tahun 1620, setelah Belanda di bawah pimpinan Jan Pieter Coenzon yang menaklukkan Jayakarta waktu itu dan menguasai perkampungan di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa. Kota yang baru dibangun ini kemudian diberi nama Batavia untuk menghormati Bataviaren, leluhur warga Belanda. Pada tahun 1635, pengembangan kota ini semakin meluas dan memakan waktu panjang. Baru di 1650, pembangunan Batavia selesai. Dibuat dengan gaya Eropa Belanda, lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan blok yang dipisahkan kanal, dengan pusat kota berada di Lapangan Fatahillah (sekarang halaman Museum Sejarah Jakarta). Kota Batavia dibangun sebagai tempat pemukiman, pusat kota, dan pemerintahan. Oleh karena itu, Kota Tua Batavia memiliki banyak situs bersejarah yang layak untuk dikunjungi karena nilai sejarah dan keindahan bentuk bangunan peninggalan Belanda.

Obyek Wisata Kota Tua

Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)
museum fatahillah kota tua jakartaDi Lapangan Fatahillah, terdapat Museum Sejarah Jakarta atau yang juga biasa disebut Museum Fatahillah dan diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974. Terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat.

Dulunya, bangunan ini adalah balai kota (stadhuis), yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Arsitekturnya bergaya barok klasik, dibangun berdasarkan rujukan dari Istana Dam di Amsterdam. Temboknya dicat kuning tanah dengan kusen pintu dan jendela yang terbuat dari kayu jati yang dicat hijau daun. Bangunan ini terdiri atas tiga lantai, dengan dua sayap di kiri-kanannya dan sebuah bangunan yang terpisah, yang berfungsi sebagai kantor dan ruang pengadilan, serta penjara di lantai bawahnya.

Anda dapat menyaksikan benda yang berhubungan dengan sejarah Jakarta, misalnya koleksi kebudayaan Betawi, numismatika (koleksi mata uang), becak, dan mebel antik dari abad 17-19, prasasti, replika peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran, serta hasil penggalian arkeologi di Jakarta. Koleksi tersebut disimpan di ruangan yang diberi nama yang berhubungan dengan sejarah Jakarta, misalnya Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH. Thamrin. Di halaman dalam, dipasang patung Dewa Hermes yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis.

Museum Seni Budaya dan Keramik
Setelah puas menjelajahi Museum sejarah Jakarta, di seberang Lapangan Fatahillah, Anda dapat melihat Museum Keramik. Tepatnya di Jalan Kantor Pos No. 2, Jakarta Barat.

Dulunya, bangunan ini adalah Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). Gedung yang dibangun pada 12 Januari 1870 ini pernah menjadi markas tentara-tentara KNIL pada tahun 1944 dan sebagai asrama militer TNI. Pada 10 Januari 1972, dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi. Bahkan, pernah menjadi Kantor Walikota Jakarta Barat pada tahun 1973-1976. Baru setelah itu, bangunan ini diresmikan menjadi Balai Seni Rupa Jakarta dan akhirnya pada tahun 1990, diresmikan menjadi Museum Seni Budaya dan Keramik.

Sesuai namanya, museum yang memiliki delapan pilar besar sebagai penyangga terasnya ini menyimpan koleksi hasil karya seniman Indonesia periode tahun 1800-an sampai sekarang. Ada juga keramik dari beberapa daerah di Indonesia dan mancanegara, misalnya dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang, dan Eropa, dari abad 16 sampai dengan awai abad 20. Koleksi seni lukis dan seni rupa yang disimpan sangat bernilai tinggi karena dibuat oleh seniman terkemuka pada zamannya. Selain seni keramik, terdapat koleksi seni rupa kontemporer. Oleh karena itu, mengunjungi museum ini sangat dianjurkan bagi Anda dan keluarga.

Koleksi yang disimpan terbagi menjadi dua kategori, yaitu Koleksi Seni Lukis dan Koleksi Seni Rupa. Untuk koleksi seni lukis, disimpan dalam ruangan menurut kategorinya yaitu Ruang Masa Raden Saleh (periode 1880-1890), Ruang Masa Hindia Jelita (periode 1920-an), Ruang Persagi (periode 1930-an), Ruang Masa Pendudukan Jepang (periode 1942-1945), Ruang Pendirian Sanggar (periode 1945-1950), Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (periode 1950-an), dan Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (periode 1960—sekarang).

Lapangan Fatahillah
sepeda onthel kota tua jakartaSempatkan untuk mencoba sepeda ontel antik di pelataran Lapangan Fatahillah. Terdapat sekitar 50-an sepeda ontel yang disewakan. Rata-rata umur sepeda itu sudah tidak muda lagi. Bahkan, ada salah satu sepeda yang dibuat pada tahun 1904. Penyewa sepeda ontel bisa mengelilingi Lapangan Fatahillah, bahkan mengelilingi Kota Tua. Dengan harga sewa sepeda dan topi Rp. 10.000,- untuk sepeda mini dan Rp. 20.000,- untuk sepeda ontel, Anda dapat menggenjot sepeda dengan santai. Jangan khawatir tersesat di Kota Tua yang ruwet. Dengan senang hati, Pemilik sepeda mengantarkan berkeliling, dengan sedikit tambahan uang sewa tentunya.

Penyewa sepeda juga dipinjamkan topi bergaya klasik berenda-renda seperti yang biasa dipakai noni-noni Belanda atau topi daun anyam khas ambtenaar (pegawai negeri zaman pemerintahan Hindia Belanda) tempo dulu. Untuk mengisi perut, jangan lewatkan untuk mencoba kerak telor, yang banyak dijajakan oleh pedagang kaki lima di sekitar Lapangan Fatahillah. Biasanya, kerak telor ini dijual dengan harga Rp. 10.000,- per buah.

Objek Wisata Lain

Gedung Arsip Nasional, Gedung Chandranaya, Vihara Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti), Petak Sembilan, Pecinan Glodok dan Pinangsia, Gereja Sion, Tugu Jam Kota Tua, Stasiun Kota, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Bank Standard-Chartered, Toko Merah, Kafe Batavia, Reptika Sumur Batavia, Museum Wayang, Kali Besar (Grootegracht), Hotel Former, Nieuws van de Dag, Gedung Dasaad Musin, Jembatan Tarik Kota Intan, Galangan VOC, Menara Syahbandar, Museum Bahari, Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Masjid Luar Batang.

Harga Tiket Masuk

Tiket masuk di beberapa museum di kawasan ini hanya berkisar antara Rp. 1.000 ,- sampai Rp. 5.000,-

Akses

Akses untuk mencapai lokasi ini sangatlah mudah. Ketika Anda sudah sampai di Jakarta, dengan berbagai sarana angkutan umum apapun  seperti Trans Jakarta Busway, Kereta Api, Angkot, Bus Metromini, dan Bajaj pun bisa menjadi sarana untuk menuju tempat ini. Jika Anda menggunakan bus Trans Jakarta dari blok-M (koridor 1), kemudian turun di akhir terminal kota. Dari terminal tersebut, Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kawasan Kota Tua. Atau Anda juga bisa menggunakan kendaraan umum seperti bus patas 79 (Rambutan-Kota). Bisa juga menggunakan mikrolet, yaitu Mikrolet M-12 (Pasar Senen-Kota), Mikrolet M-08 (Tanah Abang-Kota), atau Kopaja 86 (Grogol-Kota).

Akomodasi

Beberapa akomodasi yang dapat menjadi pilihan di seputaran Kota Tua yaitu, The Batavia Hotel yang terletak di jalan Kali Besar Barat, Jakarta, atau Alma Hotel yang berada di jalan KS. Tubun, Jakarta. Klik di sini jika Anda ingin mencari dan memesan hotel dekat Kota Tua Jakarta.

Tips

Jangan lupa siapkan kamera dan kostum yang menarik jika mengunjungi Kota Tua karena banyak spot yang menarik untuk berfoto.


View Kota Tua Jakarta in a larger map

3 Responses to “Wisata di Kota Tua Jakarta”

  1. ikmal says:

    cinta di kota tua

  2. Jubah Dress says:

    Admin… minta izin share kat fb boleh ? ;)

Leave a Reply

bottom